Pengenalan Manasik Haji

KAMIS DAY

WISATA D'RENCH-LRMBANG KAB. BANDUNG BARAT

TERIMA WAKAF

Minggu, 07 Agustus 2016

Arti Bayi Menangis

Mengapa Bayi Menangis?

Berikut ini beberapa penyebab utama dari tangisan bayi.
  • Lapar

    Salah satu ciri tangisan karena bayi merasa lapar adalah bayi akan mencari-cari puting susu saat digendong.
  • Celana atau popok basah

    Celana atau popok yang basah dapat membuat si kecil tidak nyaman dan menangis. Coba periksa celana atau popok si kecil ketka ia menangis. Hal ini tidak berlaku untuk semua bayi, karena ada bayi yang tidak menangis walau popoknya basah.
  • Kedinginan atau Kepanasan

    Bayi yang baru lahir senang akan kehangatan, biasanya ia akan menangis jika merasa kurang hangat mungkin akibat pakaian yang kurang tebal atau AC yang terlalu dingin. Tetapi, jangan membungkus bayi dengan terlalu banyak pakaian, kain yang terlalu tebal atau bedong yang akan membuatnya kepanasan dan menangis.
  • Ingin digendong

    Bayi akan merasa senang saat digendong atau dipeluk. Ia juga senang melihat wajah ayah dan ibunya serta mendengar suara atau debar jantung orangtuanya. Maka, tidak ada salahnya jika Anda menggendong, berbicara dan mengajaknya tersenyum agar bayi Anda tidak merasa sedih dan menangis.
  • Merasa bosan atau terlalu ramai

    Si kecil dapat merasa bosan atau merasa pusing ketika berada di kerumunan banyak orang. Mungkin banyak orang yang mencolek pipinya, mengajak berbicara, atau menggodanya. Suara tertawa atau obrolan yang terlalu ramai dapat membuat si kecil merasa bosan dan menangis walaupun pada awalnya ia merasa senang.
  • Sakit

    Ketika merasa tidak enak badan, si kecil akan menangis, Untuk mengetahuinya, Anda dapat mencoba untuk mengukur suhu badannya atau memeriksa apakah buang airnya tidak normal, batuk atau hidung tersumbat akibat pilek. Apabila terbukti si kecil sakit, segera bawa ke dokter untuk mendapat pengobatan yang tepat.
  • Kolik

    Ketika bayi menangis tanpa henti selama minimal 3 jam per hari dan kejadian ini berulang 3 kali selama seminggu, ada kemungkinan bayi mengalami kolik. Adanya gas pada perut bayi membuat bayi merasa tidak nyaman dan menjadi rewel. Bayi yang mengalami kolik sulit untuk ditenangkan. Kolik bisa terjadi pada bayi berusia kurang dari 3 bulan.

Penyebab Kolik

Salah satu penyebab utama bayi rewel dan terus-menerus menangis yaitu karena kolik. Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kolik yaitu:
  • Banyak gas yang berada di dalam usus akibat enzim pencernaan yang dibutuhkan bayi untuk mengolah makanan masih sedikit dan ketika mencerna ASI atau susu formula yang banyak mengandung protein menghasilkan banyak gas yang membuat perut sakit.
  • Pada bayi yang mengkonsumsi ASI, kemungkinan ada makanan ibu yang tidak cocok atau sensitif dengan bayi.
  • Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula, kemungkinan ada protein yang terkandung dalam susu yang tidak cocok dengan pencernaan bayi.
  • Rasa takut dan terlalu gembira pada bayi dapat menyebabkan gangguan pada perut dan kolik.

Cara Mengatasi Kolik

Bantuan yang dapat diberikan ibu pada bayi yang sedang mengalami kolik yaitu:
  • Tunjukkan kasih sayang Anda yang akan membuat nyaman dan mencegah bayi dari ketakutan dengan menggendong, memeluk atau menyanyikan lagu kesukaannya.
  • Gendong bayi pada posisi tegak sambil menepuk-nepuk punggungnya secara pelan untuk membantu mengeluarkan gas yang ada dalam perut bayi.
  • Kompres perut dengan handuk yang sudah direndam air hangat atau kompres dengan botol karet yang berisi air hangat.

Mengatasi Bayi Menangis

Ketika bayi menangis hendaknya segara mendapat tanggapan dari orang di sekitarnya. Misalnya dengan segera mendatangi, memeluk, dan menggendongnya. Respon yang lambat akan membuat bayi cemas dan mengganggu emosinya di masa selanjutnya. Hal ini bertentangan dengan anggapan yang mengatakan agar membiarkan bayi yang menangis agar tidak bau tangan atau agar paru-parunya kuat.

sumber :
kumpulan.info/keluarga/anak/520-arti-tangisan-bayi.html
Respon yang lambat akan membuat bayi cemas dan mengganggu emosinya di masa selanjutnya. Hal ini bertentangan dengan anggapan yang mengatakan agar membiarkan bayi yang menangis agar tidak bau tangan atau agar paru-parunya kuat.

Istilah Sekolah

Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh golongan elit saja.
Saat ini, pendidikan di sekolah telah dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dan golongan. Berbagai sekolah didirikan untuk menjadi tempat atau sarana pendidikan bagi anak. Berbagai kurikulum juga dikembangkan untuk sekolah agar dapat membantu anak memiliki cara belajar yang baik dan bermutu. Bagi sebagian besar masyarakat, mereka bisa mendapatkan pendidikan umum di sekolah dengan mudah. Yang termasuk pendidikan umum adalah pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Beberapa jenjang pendidikan yang ada di berbagai sekolah di Indonesia yaitu:
  • Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

    Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD adalah jenjang pendidikan paling awal. Jenjang pendidikan ini memang tidak wajib diikuti seorang anak, mengingat orang-tua juga memiliki kemampuan penuh untuk melakukannya. Pada jenjang ini, anak akan dibina agar siap memasuki pendidikan umum. Karena itu, pada jenjang ini lebih ditekankan untuk merangsang pikiran anak dan perkembangan jasmani seorang anak.
    • Usia: 0 - 6 tahun
    • Contoh: Kelompok bermain (play group) dan Taman Kanak-kanak (TK)
  • Pendidikan Dasar

    Pendidikan dasar adalah pendidikan yang wajib diikuti seorang anak selama 9 tahun. Pendidikan ini merupakan awal dari pendidikan seorang anak karena melatih seorang anak untuk membaca dengan baik, mengasah kemampuan berhitung serta berpikir. Pendidikan dasar mempersiapkan seorang anak untuk memasuki jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar umumnya dibagi menjadi 2 tahap, yaitu 6 tahun pertama di kelas 1 sampai 6. Kemudian dilanjutkan tahap berikutnya pada kelas 7 sampai 9 selama 3 tahun.
    • Usia: mulai usia 7 tahun
    • Contoh pendidikan dasar tahap pertama (6 tahun): Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI)
    • Contoh pendidikan dasar tahap kedua (3 tahun): Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MT)
  • Pendidikan Menengah

    Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah diselenggarakan selama 3 tahun. Beberapa jenis pendidikan menengah juga telah mempersiapkan seseorang memiliki keterampilan tertentu untuk dipersiapkan langsung ke lapangan kerja.
    • Contoh: Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA)
    • Contoh sekolah kejuruan: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan
  • Pendidikan Tinggi

    Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari pendidikan menengah. Pendidikan tinggi diselenggarakan bukan lagi di sekolah melainkan di perguruan tinggi.
    • Contoh: Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, Universitas

Kunci Pendidikan yang Baik

Sekolah telah menyediakan serangkaian materi untuk mendidik seorang anak hingga dewasa termasuk perkembangan dirinya. Namun, tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Kunci menuju pendidikan yang baik adalah keterlibatan orang dewasa yaitu orang-tua yang penuh perhatian. Jika orang-tua terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak di sekolah, maka prestasi anak tersebut akan meningkat. Setiap siswa yang berprestasi dan berhasil menamatkan pendidikan dengan hasil baik selalu memiliki orang-tua yang selalu bersikap mendukung. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-tua bagi anaknya setelah mereka memasuki pendidikan di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang-tua agar anaknya dapat berprestasi di sekolah.
  • Dukungan Orang-Tua

    Orang-tua sebaiknya memberi perhatian kepada anak-anak mereka dan menanamkan kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan. Mereka juga berupaya mengetahui perkembangan anak mereka di sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.
  • Kerja Sama dengan Guru

    Biasanya apabila timbul masalah-masalah gawat, barulah beberapa orang-tua menghubungi guru anak-anak mereka. Sebaiknya, orang-tua perlu mengenal guru di sekolah dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Berkomunikasilah dengan guru untuk perkembangan anak Anda. Guru juga perlu diberitahu bahwa Anda memandang penting pendidikan anak Anda di sekolah sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak Anda. Hadirilah pertemuan orang-tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada pertemuan ini, Anda memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis anak Anda serta perkembangan anak Anda di sekolah.

    Jika seorang guru mengatakan hal yang buruk mengenai anak Anda, dengarkan guru tersebut dengan penuh respek, dan selidiki apa yang ia katakan. Anda juga dapat menanyai guru-guru di sekolah mengenai prestasi, sikap, dan kehadiran anak di sekolah. Jika seorang anak sering bermuka dua, maka penjelasan dari guru bisa jadi mengungkap hal-hal yang disembunyikan anak Anda saat bersikap manis di rumah.
  • Sediakan waktu untuk anak

    Selalu sediakan waktu yang cukup banyak bagi anak Anda. Jika anak pulang sekolah, umumnya mereka cukup stres dengan beban pekerjaan rumah, ulangan, maupun problem lainnya. Sungguh ideal jika orang-tua misalnya seorang ibu berada di rumah pada saat anak-anak di rumah. Seorang anak akan senang bercerita ketika pulang sekolah seraya mengeluarkan semua keluhan dan bebannya kepada orang-tua. Bisa jadi mereka mulai menceritakan teman-temannya yang nakal yang mulai menawari rokok dan narkoba. Anda bisa segera tanggap dengan hal tersebut jika Anda menyediakan waktu bagi anak-anak Anda.
  • Awasi kegiatan belajar di rumah

    Tunjukkan Anda berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak-anak Anda sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan bermain game dari anak-anak Anda.
  • Ajari tanggung jawab

    Sekolah umumnya akan memberi banyak tugas untuk dipersiapkan anak di rumah dan di sekolah. Apakah mereka mengerjakan tugas-tugas itu dengan benar dan baik? Seorang anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas mereka di sekolah jika Anda telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan anak Anda pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari seperti membersihkan tempat tidur sendiri menurut jadwal yang spesifik. Pelatihan di rumah seperti itu akan membutuhkan banyak upaya di pihak Anda karena perlu diawasi. Tetapi hal itu akan mengajar anak Anda rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.
  • Disiplin

    Jalankan disiplin dengan tegas namun dengan penuh kasih sayang. Jika Anda selalu menuruti keinginan anak, maka mereka akan menjadi manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul jika Anda terlalu memanjakan anak Anda seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan masalah lainnya.
  • Kesehatan

    Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak Anda. Anak-anak yang kelelahan tidak dapat belajar dengan baik. Lalu hindari makanan seperti junk food, karena selain menyebabkan problem obesitas, juga mendatangkan pengaruh yang buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.
  • Jadi teman terbaik

    Jadilah teman terbaik bagi anak Anda. Luangkan waktu untuk berbagi berbagai hal dengan mereka. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan.
sumber : 
kumpulan.info/keluarga/anak/192-pendidikan-yang-baik-untuk-anak.html

Senin, 27 Juni 2016

mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha

Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin Samurah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Salah seorang di antara kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’ setiap hari kepada orang-orang miskin.”
Sahabat Ummi, seorang ibu adalah pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya,  oleh karena itu, sebagai ibu kita perlu mengupgrade diri tiap hari agar bisa mendidik anak-anak kita sesuai dengan zaman di mana mereka hidup.
“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,” demikian pesan Khalifah Kedua Umat Islam, Umar bin Khaththab. Pesan yang sungguh singkat dan mudah diingat.

Salah satu cara mendidik anak tentu saja melalui perantara lisan, sayangnya… banyak orangtua khususnya ibu, yang belum memahami pentingnya menjaga kata-kata di depan anak, karena dapat berpengaruh besar pada perkembangan diri, psikologis, dan konsep diri anak.
Berikut ini, 8 hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada anak, terutama usia sampai dengan tujuh tahun:

1. Memberikan Pernyataan Negatif tentang Diri Anak
“Kamu anak yang pelit!”
“Kamu pemalas!”
“Kamu gendut!”
“Kamu nakal!”
Jenis pernyataan semacam itu dapat menyakiti perasaan anak-anak. Mereka akan menjadi seperti  yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.
Sebaliknya, katakanlah hal-hal positif kepada anak. Jika anak menerima nilai buruk, jangan mengatakan, “Kamu begitu bodoh!”; Katakan sesuatu yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, “Jika kamu belajar lebih baik, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada ini karena kamu sebetulnya adalah anak pintar.” Bukankah kata-kata seperti ini akan lebih menenangkan hati anak kita?
 2. Jangan katakan “Jangan Ganggu, Ibu Sibuk!”
Hal ini tampaknya seperti hal yang normal. Seorang ibu sibuk memasak di rumahnya. Atau ayah sibuk membaca post menarik di koran. Atau mungkin juga melanjutkan tugas yang dibawa dari kantor. Lalu ia mengunci diri di kamarnya. Tiba-tiba anak datang dan meminta dia untuk sebuah bantuan. Dalam situasi yang ketat, orang tua dapat berteriak pada anak itu, “Jangan ganggu aku! Aku sibuk! ”
Menurut Suzette Haden Elgin PhD., penulis yang juga seorang pelatih bela diri verbal dikutip dari parenting.com, bahwa jika orang tua bertindak seperti itu, anak-anak mungkin merasa tidak berarti karena jika mereka meminta sesuatu pada orang tua mereka, mereka akan diposthu untuk pergi.
Bayangkan Sahabat Ummi… Jika sikap seperti itu diterapkan pada anak-anak kita, maka sampai mereka tumbuh dewasa, kemungkinan besar mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtua.
Di sisi lain, Suzette menyarankan bahwa jika memang sedang benar-benar sibuk, cobalah alihkan perhatian anak-anak untuk melakukan kegiatan lain sebelum kita membantu mereka. Misalnya, jika mereka meminta bantuan dalam melakukan pekerjaan rumah mereka dan kondisinya kita sedang benar-benar sibuk, mintalah mereka untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu seperti menonton TV. Lalu kemudian, datanglah kepada mereka untuk membantu, asalkan gangguan tersebut tidak terlalu lama.
3. Jangan katakan “Jangan Menangis!”
Berurusan dengan anak-anak yang bertengkar dengan teman-teman mereka atau merasa kecewa karena perlakuan tertentu harus dilakukan secara bijaksana. Tidak perlu untuk memarahi atau meminta anak-anak anda untuk tidak cengeng. Banyak anak yang mengalami hal tersebut, orang tua mengatakan pada mereka, “Jangan cengeng!”, “Jangan sedih!”, “Jangan takut!”
Menurut Debbie Glasser, seorang psikolog anak, mengatakan kata-kata tersebut akan mengajarkan anak-anak bahwa perasaan sedih adalah sesuatu hal yang tidak umum, bahwa menangis bukanlah hal yang baik, sedangkan menangis sendiri merupakan ekspresi dari emosi tertentu yang setiap manusia miliki.
Oleh karena itu, untuk menangani masalah ini, akan lebih baik untuk meminta anak-anak menjelaskan apa yang membuat mereka sedih. Jika mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-teman mereka, jelaskan pada mereka bahwa perilaku teman-teman mereka adalah tidak baik.
Dengan memberikan mereka gambaran perasaan yang mereka rasakan, orang tua telah memberikan mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan segera menghentikan atau setidaknya mengurangi tangisan mereka.

4. Jangan Membanding-bandingkan Anak
“Lihatlah kakakmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga?”
“Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kamu tidak?”
“Dulu ketika kecil ibu bisa begini begitu, masa kamu tidak bisa?!”
Perbandingan  hanya akan membuat anak anda merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena mereka selalu mendapatkan perlakuan buruk dari perbandingan tersebut (terhadap kakak, adik, atau anak-anak lain), sedangkan perkembangan setiap anak berbeda.
Daripada  membandingkan anak-anak, ibu sebaiknya membantu untuk menyelesaikan persoalannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah mengenakan pakaian mereka sementara saudara mereka bisa melakukannya lebih cepat, orang tua harus membantu mereka untuk melakukannya secara benar.
5. Jangan katakan “Tunggu Ayah Pulang ya! Biarkan kamu dihukum ayah”
Ada kalanya seorang ibu berada di rumah bersama anak-anak mereka tetapi tanpa ayahnya. Ketika anak-anak melakukan kesalahan, ibu tidak segera memposthu anak-anak tentang kesalahan yang mereka buat. Si ibu hanya mengatakan, “Tunggu sampai ayahmu pulang.” Ini berarti menunggu sampai ayahnya yang akan menghukum nanti.
Menunda mengatakan kesalahan hanya akan memperburuk keadaan. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya.
Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tidak menunda dalam mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak-anak sebelum menjadi lupa sama sekali, dan
6. Jangan Terlalu mudah dan berlebihan memberi pujian
Rupanya, memberikan pujian dengan mudah juga bukan hal yang baik. Memberikan pujian dengan mudah akan terkesan “murah”. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan “Luar Biasa! Luar Biasa!” Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa.
Yang perlu diperhatikan juga, pujilah  sikap anak kita, dan jangan memuji dirinya atau hasil perbuatannya. Sekiranya ia mendapat hasil bagus di sekolah, pujilah “Alhamdulillaah, Ibu bangga dengan kerja keras kamu sehingga kamu mendapat nilai baik!”
Jika kita memuji hasil yang dilakukan anak dan bukan sikapnya, sangat mungkin anak kita akan berfokus pada hasil dan tidak peduli dengan sikap/ karakter yang baik, misalnya… demi mendapat nilai ujian bagus, anak akan rela mencontek atau bertanya pada teman ketika ujian.
7. Jangan Katakan “Kamu Selalu…” atau “Kamu tidak pernah…”
Janganlah melontarkan kalimat dengan "Kamu selalu...." atau "Kamu tidak pernah...". Memang, kata-kata ini kadang refleks langsung terucap oleh orangtua, namun hindarilah penggunaan kalimat ini.

"Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan "Kamu selalu..." dan "Kamu tidak pernah" adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak," ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis. 

Berman mengungkapkan, kedua pernyataan yang kerap dilontarkan oleh orang tua ini akan membentuk kepribadian anak. Anak-anak akan menjadi seperti apa yang dikatakan terhadap dirinya. Bila orangtua mengatakan sang anak selalu lupa menelepon ke rumah jika pulang terlambat, maka ia akan menjadi anak yang tidak pernah menelepon ke rumah.

"Sebaliknya, bertanyalah kepada anak tentang apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu dia mengubah kebiasaannya. Misalnya, 'Ibu perhatikan kamu sering lupa membawa pulang buku pelajaran ke rumah. Apa yang bisa Ibu bantu supaya kamu ingat untuk membawa bukumu pulang?'. Pernyataan seperti itu akan membuat anak merasa terbantu dan nyaman," jelas dr Berman.
8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja!”Pernyataan lainnya yang harus kita hindari adalah "Bukan begitu caranya. Sini, biar Ibu saja." Biasanya orangtua mengeluarkan pernyataan ini jika mereka meminta anak membantu sebuah pekerjaan, namun anak tidak melakukannya seperti yang dikehendaki. Dr Berman mengatakan, orang tua harus menghindari pernyataan ini.

"Ini sebuah kesalahan, karena ia (anak) menjadi tidak belajar bagaimana caranya. Daripada berkata demikian, lebih baik ibu melakukan langkah kolaboratif dengan mengajak anak melakukan pekerjaan itu bersama sambil  ibu menjelaskan bagaimana cara melakukannya," saran dr Berman.
 Sumber :
ummi-online.com/ibu-jangan-katakan-8-hal-ini-pada-anakmu.html

Kamis, 23 Juni 2016

Lambang tk bundalia insidi


1. Bintang, melambangkan :

  • Sama dengan Sila pada pancasila, yaitu 
            • pengurus, pelaksana, anak-anak didik dan orang tua wali ber-keTuhanan yang maha esa.
        • Merah, melambangkan keberanian menegakkan kebenaran
            • Bagi pengurus, pelaksana, anak-anak didik dan orang tua wali mempunyai mimpi-mimpi yang ditancapkan dilangit-langit.
            • Bagi Anak-anak tertanam tekad yang kuat, semangat yang berkobar-kobar dan mampu mengembangkan kreatifitasnya dan memanfaatkan kemampuannya
        • Putih :
            • Bagi Pengurus dan Pelaksana : Keikhlasan Mengawal, menghantarkan dan  membangun mimpi-mimpi anak-anak didik Tk. Bundalia Insidi untuk mempersiapkan manusia-manusia unggul bermanfaat mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, aman menebarkan kebahagiaan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, lingkungannya dan negaranya.
            • Bagi Anak-anak didik Semoga tertanam : kebersihan hati, mewujudkan kemulyaan akhlakul kharimah pada lingkungannya

FOBIA DIALAMI ANAK

Fobia adalah perasaan takut yang bersifat irasional terhadap suatu objek yang tidak berbahaya atau tidak menyeramkan  dan tidak perlu ditakuti. Manusia semua memiliki rasa takut, itu adalah insting untuk melindungi diri dari bahaya. Rasa takut akan berkurang seiring dengan pertumbuhan, perkembangan dan pengalaman tentang sesuatu yang berbahaya dan tidak.

Adapun tanda-tanda mengalami gejala fobia seperti kaku dalam bergaul, takut melakukan kesalahan, menyalahkan diri sendiri, rasa takut yang berlebihan, menjerit, berlari langsung tanpa sebab, sembunyi dikamar, menampilkan tingkah laku yang ketakutan, dan tidak mengendalikan diri, mencari orang lain sebagai bentuk rasa aman.

Jenis fobianya diantaranya:
  1. Agorafobia, fobia terhadap ruang terbuka.
  2. Claustrofobia, fobia terhadap ruang tertutup.
  3. Acrophobia, fobia terhadap tempat tinggal.
  4. Mysofobia, fobia terhadap tempat kotor dan infeksi akibat kuman.
  5. Phobofobia, fobia terhadap suatu benda, misalnya karet gelang, binatang atau serangga tertentu.

Penyebab fobia diantaranya:
  1. Mencontoh tingkah laku orang tua yang takut kepada sesuatu yang tidak menakutkan, anak selalu mendapati objek lekat (ayah, ibu, tante, om, nenek, pengasuh) pada situasi ketakutan pada benda yang jelas-jelas tidak membahayakan. Misalnya objek lekat terpegang pada tali karet perilaku atau respon yang muncul menjerit atau lari.
  2. Salah satu orangtua yang overprotektif (terlalu melindungi anak), anak tidak dapat bergerak bebas, segala perilaku anak selalu diikuti dan dikhawatirkan secara berlebihan.
  3. Hubungan anaknya dan orangtua kurang harmonis, ayah dan ibu sering bertengkar.
  4. Orangtua yang menderita fobia, jika dalam waktu lama bersama orang yang menderita fobia maka orang tersebut bisa juga mengalami fobia, namun fobia yang bersifat ringan.

 Cara mengatasi Fobia, sebagai berikut:
  1. Memberi rasa tenang dengan cara menyakinkan anak bahwa apa yang ditakutkan itu tidak ada.
  2. Bila tidak memberi penyelesaian, mintalah bantuan pada psikolog.
  3. Bisa dengan cara desensitisasi yaitu memberikan objek yang ditakuti anak dengan proses perlahan-lahan. Misal anak takut pada karet gelang usaha desensitisasinya dengan cara menceritakan tentang kegunaan dari karet gelang, melihatkan karet gelang dengan media foto (belum secara langsung), melihatkan potongan karet kecil pada anak, jika setelah proses ini selesai anak mulai dapat tenang maka objek gelang secara utuh kita lihatkan dan pegangkan pada anak.
  4. Dengan cara flooding (secara langsung) dihadapkan pada objeknya dengan cara dibersamai, namun proses flooding perlu dipertimbangkan dengan kondisi anak, jika anak jantungan maka cara flooding tidak boleh diberikan.
  5. Proses desensitasasi dan flooding dapat lebih efektif jika melibatkan dokter anak, psikolog atau ahlinya.
Bisa juga dengan terapi relaksasi, token ekonomi dan lain-lain.
Usaha terapi atau metode terapi dapat bermacam ragam, dengan berbagai variasi tetapi butuh waktu dan harus proporsional.

sifat-sifat anak

1. EGOIS 
Sifat egois atau keras kepala seringkali memang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Umumnya, anak yang egois mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok makan, tak mau belajar sampai berguling-guling di lantai.


Yang harus dilakukan:
Jangan panik bila menghadapi anak yang egois. Tak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadapi anak bertemperamen keras. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan. Ingat, umumnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada dalam pikiran mereka adalah mengerjakan atau melakukan sesuatu hanya untuk kesenangannya. Jadi, tugas Anda sebagai orang tua adalah memberikan pengarahan dan pengertian pada si anak.


2. PERAJUK 
Ciri anak perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan anak egois, hanya saja anak perajuk belum tentu keras kepala. Biasanya, anak akan ngambek bila orang tua kurang memberikan perhatian padanya. Misalnya, “Ma, rambut Ella bagus enggak dikuncir seperti ini?” Karena sang mama tidak memberikan komentar dan hanya menggangguk, anak pun ngambek.


Yang harus dilakukan:
Sama seperti menghadapi anak egois, menghadapi anak yang hobi ngambek juga butuh kesabaran. Jika tidak, emosi Anda sebagai orang tua bisa terpancing. Mungkin bagi kita, menggangguk saja sudah cukup, namun bagi anak lain lagi. Ia perlu action dari Anda. Anda bisa mengatakan misalnya, “Oh, bagus sekali. Coba Mama lihat kuncirnya. Hmm… ternyata anak Mama sudah pintar menguncir rambut sendiri!” Perhatian dan komentar Anda akan membuat anak senang.
Bila anak gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya.


3. PEMALAS 
Sifat anak yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Misalnya, merapikan tempat tidur, buku pelajaran atau mainannya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.


Yang harus dilakukan:
Beri anak pengertian dan contoh. Misalnya, setelah bangun tidur, tempat tidur harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut. Walaupun mungkin di rumah ada pembantu, berikan pengertian pada anak bahwa tidak selamanya ada “si mbak” yang bisa membantunya.
Latih anak-anak untuk memiliki tanggungjawab sejak dini. Bukan pekerjaan berat, cukup yang ringan saja. Seperti merapikan tempat tidur, mainan ataupun rak buku pelajaran. 


4. NAKAL  

Sifat nakal atau bandel wajar dimiliki oleh anak-anak. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, anak umumnya juga punya banyak akal. Contoh perilaku mereka antara lain hobi berkelahi, mengejar layang-layang, memanjat pohon tinggi, jahil pada temannya, dan sebagainya.

Yang harus dilakukan:
Tak perlu memarahi atau melarangnya bermain. Coba pantau kegiatannya sehari-hari. Sejauh yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya dan orang lain, kenapa harus dilarang? Biarkan mereka melakukannya karena hal itu akan menjawab rasa penasarannya.
Lain hal jika yang dilakukan anak membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada salahnya menegur dan memberi pengertian pada anak. Yang terpenting dalam menghadapi anak nakal adalah jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan.


5. PENDENDAM
Ciri anak pendendam adalah “menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari. “Awas, besok kubalas kamu!” begitu biasanya mereka mengancam “lawan” mereka. Biasanya, anak baru merasa puas bila sudah dapat membalas rasa sakit hatinya.


Yang harus dilakukan:
Yang utama, jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri anak-anak. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar. Berikan pengertian pada anak bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka. Tanamkan pada diri anak bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. 


6. PEMALU 
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri-ciri dari anak pemalu. Seorang anak pemalu jarang sekali memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara oleh orang lain. Pribadinya sangat tertutup, sehingga sulit menebak isi hatinya. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan. Mereka juga akhirnya jarang bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.


Yang harus dilakukan:
Cara tepat menghadapi anak pemalu adalah melatih dirinya agar berani tampil dan berbicara di depan umum. Misalkan dengan mengikutsertakan dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup. Engan begitu, mereka akan terbiasa berhadapan dengan orang banyak. Hal ini akan membantu anak untuk berinteraksi dan mengemukakan pendapatnya. Ini juga akan membuat ruang lingkup pergaulannya menjadi luas. Dengan demikian, diharapkan anak tak lagi menjadi pribadi yang tertutup.


7. PERIANG 
Lincah, ramah dan senang bergaul merupakan ciri-ciri anak yang periang. Umumnya, anak periang memiliki banyak teman, karena kepribadian mereka yang hangat. Mereka memang senang bersahabat. Jarang sekali murung dan selalu bergembira.


Yang harus dilakukan:
Meski sifat periang lebih banyak memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu mengingatkan anak agar dapat menempatkan diri kapan harus gembira dan kapan turut merasakan duka orang lain. Beritahu, bila ada temannya yang sedang bersedih, sebaiknya ia jangan bergembira. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri.


sumber:  
nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=612
mendidikanakanak.blogspot.co.id/2013/03/mengenal-sifat-sifat-anak.html

Memahami pola pikir anak

Memahami pola pikir anak susah-susah gampang. Beda usia, beda pula cara berpikirnya. Simak penjelasan Roslina Verauli, M. Psi, praktisi Tumbuh Kembang RS Pondok Indah, soal perkembangan cara berpikir anak dan bagaimana cara menghadapi mereka dengan bijak.


Sejak anak lahir dan berkembang, ada proses kognitif yang terjadi pada dirinya. Proses-proses kognitif mencakup kegiatan berpikir, menalar, belajar dan memecahkan masalah. Orangtua yang ingin memahami jalan pikir anak, tentu harus mengetahui perkembangan umum kognitif mereka di setiap tahapan usia.


Usia 0 – 2 tahun

Di usia 0 – 2 tahun, anak sudah mulai memersepsi dan bertindak. Perkembangan itu dapat dilihat dari perkembangan motorik mereka. Misalnya, di usia 0 – 1 bulan, kemampuan motorik mereka sebatas melatih refleks yang sudah ada.  Contohnya mengisap puting ibu saat menyusu. Pada usia 1 – 4  bulan, bayi sudah bisa mengulang tindakan seperti membuka dan menutup telapak tangan. Usia 4 – 8 bulan, anak mulai merespon untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, memindahkan penutup untuk mengambil mainan. Usia 12 – 18 bulan, anak mulai tertarik pada karakter sebuah mainan untuk melihat bagaimana mainan bisa berfungsi. Usia 18 – 24 bulan, anaka mulai mengunakan bahasa dan simbol warna-warna dan bentuk-bentuk  benda atau nama-nama binatang. Ekspresi anak mulai terlihat dengan jelas.


Cara menghadapi:

Orang tua harus merangsang anak lebih kreatif dalam berpikir. Contoh, pada bayi yang menangis ingin menyusui, latih mereka untuk menemukan puting si ibu. Selain itu, orang tua juga harus intens membangun ikatan emosi dengan si anak. Contoh, saat menyusui, peluklah anak dengan hangat dan memberikan tepukan lembut serta bernyanyilah dengan gembira. Ketika anak menangis , orang tua harus segera berespon. Dengan begitu anak memiliki rasa percaya dan aman bahwa ketika dia butuh bantuan. Jadi, semakin intens Anda mengasuhnya langsung, semakin kuat pula ikatan emosional antara Anda dan buah hati.


Usia 3 – 5 tahun

Anak-anak usia 3 – 5 tahun sudah mulai berespon menghadirkan setiap pengalamannya secara mental  dengan mengunakan bahasa. Mereka juga lebih imajinatif  dalam bermain. Mulai suka main guru-guruan, panggung boneka dan mulai suka menonton televisi. Di usia ini, anak harus bisa membedakan orang asing dan orang dekat. Dia harus mengerti bagaimana bersikap kepada orang yang dia kenal atau orang asing.


 Cara menghadapi :

Penolakan-penolakan yang sudah mulai dilakukan anak kepada ibu adalah hal wajar. Yang harus dilakukan, saat anak menolak untuk hal-hal disiplin (makan, mandi dan belajar), kita perlu melakukan negosiasi sederhana. Kasih mereka pilihan dan konsekuensi. Contoh, bila anak menolak makan, negosiasikan padanya kapan dia akan menunda waktu makan dan berikan pilihan atau konsekuensi bila dia tidak menepati janjinya.


Usia 6 – 12 tahun

Perkembangan kognitif yang menonjol, mereka berpikir lebih kompleks dan mulai memasuki pendidikan formal. Kehidupan sosial anak usia ini lebih mengutamakan pertemanannya. Berteman itu penting untuk membantu mereka bersosialisasi dengan lingkungan. Usia ini anak sudah mulai punya rahasia. 


Cara menghadapi:
Pastikan anak tidak hanya sekedar belajar dibangku sekolah. Bangun konsep cita-cita pada dia agar dia menjalani hidup dengan tujuan. Tetapi ingat, anak bukan perpanjangan tangan profesi kita yang gagal. Berikan pengetahuan yang seluas-luasnya soal pilihan cita-cita. Tak perlu cemburu bila anak lebih memilih bermain dengan temannya dari pada berkumpul dengan keluarga. Justru, orang tualah yang seharusnya mendorong mereka untuk memiliki teman dan bersosialisasi.

sumber :
mendidikanakanak.blogspot.co.id/2013/03/memahami-pola-pikir-anak-dan.html